Tags

,

Dulu populer yang namanya Hukum Sebab Akibat. Segala sesuatu yang terjadi pasti sebabkan oleh sesuatu hal—kurang lebih begitu. Jika kita amati realita kehidupan kita saat ini, itu berarti, apa yang kita alami saat ini, adalah hasil dari apa yang telah kita lakukan di masa lampau. Begitupun sebaliknya, apa yang saat ini sedang kita lakukan, ia akan mempengaruhi apa yang akan kita alami di masa depan.

Sederhana memang, namun dibalik kesederhanaan itu, bila kita “melanggarnya” kepahitan dan kekecewaan yang luar biasa yang akan mendera diri kita. IMHO: yang saya maksud dengan “melanggar” dalam hal ini adalah mengabaikan atau tidak mempedulikan.

Nah, sebab apa yang kita buat, akibat apa yang kita dapat. Tidak serta merta kita terima atau alami dalam kurun waktu yang cepat, ia akan berjalan dalam dimensi waktu tertentu—bisa cepat, bisa juga lambat. Dimensi waktu membuat kita jadi tidak waspada, lalai, takabur, sombong, dan lain sebagainya. Terkadang diperlukan suatu momentum—yang menghantam dengan keras—untuk membuat diri kita sadar.

Konteks Momentum

Misal, ada seorang kawan yang tidak bisa berenang, ketika ia diajari berenang di kolam renang, sampai habis kesabaran untuk mengajarinya kawan tersebut tidak tetap tidak bisa berenang. Namun, pada suatu waktu, kita melakukan aktivitas di alam terbuka. ORAD misalnya. Kita beri kode kepada skipper untuk membalikkan perahu karet yang kita tumpangi, sehingga semua penumpangnya tercebur.

Pada saat seperti ini, tak ada orang yang bisa kita andalkan untuk menyelematkan diri, selain diri kita sendiri. Untuk bisa selamat ya kita harus berenang. Jika tidak akan hanyut—dan, belum tentu kita akan selamat. Pada momentum semacam ini, diri masing-masing akan memasuki dimensi waktu diri sendiri. Di mana, waktu yang akan menentukan apakah akan selamat atau tidak. Pada situasi seperti ini, ingatan seseorang, keinginan untuk bertahan hidup, ketakutan akan kematian, membawa seseorang ke dalam sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Karena ingin hidup, dia akan melakukan segala upayanya, mengingat semua yang pernah dia pelajari, dia lihat, dia dengar, dan lain sebagainya.

Jadi, kawan kita ini. Dengan rasa takut akan kematian, dengan ingatan-ingatan ketika dia belajar berenang, dengan keinginan yang kuat untuk hidup—asal dia tidak putus asa. Hal yang paling mungkin dia lakukan adalah dengan menggerakkan kedua tangannya, mengayuh sekuat-kuatnya—sambil memejamkan mata. Ketika sadar dia sudah ada di tepi sungai. Dan, selanjutnya kawan ini mencoba sendiri, setelah naik ke perahu, dia uji keahlian yang baru dia dapatkan setelah momentum perahu terbalik, dengan lantang dia berteriak “Woooy… saya bisa berenang!”

Dimensi Waktu

Pernah mengalami de Javu? sepertinya setiap orang pernah. IMHO lagi: bisa saja itu merupakan ingatan-ingatan kita, atau sesuatu akan dan mungkin akan kita alami—lihat, dengar, rasakan. Mengutip kalimat yang ada dalam Novel Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder, “Siapa Kamu? Dari manakah datangnya dunia?”

Saya punya pertanyaan yang mungkin sama rumitnyanya “Dari manakah Ruh kita?” tentu setiap orang yang agamanya berbeda akan punya jawaban yang berbeda—mungkin. Untuk jawaban silakan cari sendiri. Kalau saya ditanya “Siapa kamu?” seperti yang saya tulis di draft novel saya, saya akan menjawab “Itulah yang sedang saya cari tahu!”

Dimensi waktu, ada siang di dalam malam, ada malam di dalam siang. Setiap orang punya dimensi waktu masing-masing, dan tidak pernah sama dengan orang lain. Yang pasti, Dimensi Waktu dan Konteks Momentum. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah. Tuhan Yang Maha Pandai.

Dimensi Waktu dan Konteks Momentum ini perlu kiranya kita sadari, karena ia berjalan dalam ritme yang disebut sebagai proses. Kita terkadang lupa akan adanya proses ini, atau terkadang tidak sabar dalam melewati proses ini, sehingga ketika itu—masalah—datang dan menjadi aral melintang bagi langkah kita, motivasi untuk meraih sesuatu yang kita inginkan (misalnya: kesuksesan hidup) menjadi berkurang. Kemudian merasa khawatir atau bahkan putus asa. Kita tidak sadar bahwa sebenarnya masalah yang sedang kita hadapi itu merupakan kepingan-kepingan dari proses dalam meraih apa yang kita dambakan.

Serta untuk mewujudkannya—dengan menyempurnakan usaha, akan ada perjuangan, pengorbanan, kepahitan, kesedihan, tetesan air mata (Huuuff… :”D) dan ini selama proses berlangsung akan menjadi suatu kenangan tersendiri bagi kita. Dan, nantinya ini akan membuat kita tersenyum ketika kita mengingatnya, dan yang juga akan menyempurnakan kebahagiaan dari kesuksesan hidup yang sudah dalam genggaman.

Akhirnya silakan jalani dimensi waktu dan temukan momentum diri kita masing-masing, dan selalu berdoa agar kita dibebaskan dari Sifat Lupa dan Allah, Tuhan Yang Maha Kaya, memberikan segala kebaikan-Nya kepada kita sepanjang tahun ini.

Posting lain di Kompasiana Dimensi Waktu dan Konteks Momentum. Judul sama beda isi.