Tags

, , , , ,

Jam 9 pagi tanggal 15 April 2013, pesawat yang saya tumpangi take-off dari Bandara Syamsuddin Noor (BDJ) ke Bandara Soekarno-Hatta (CGK)—Transit. Lalu lanjut ke Bandara Supadio (PNK). Tepat disaat anak-anak saya di SMA PGRI 1 Banjarbaru—Kelas XII—harus menghadapi tantangan terakhir mereka di bangku Sekolah Menengah. Dan, 3 bulan sebelum anak-anak di Kelas XI menghadapi Ujian Kenaikan Kelas.

Pergi untuk tugas baru. Menangani program dari Kementerian Kominfo, yaitu Internet Kecamatan. Yang tujuannya adalah untuk memperkenalkan Internet dan Teknologi Informasi kepada masyarakat dan anak-anak sekolah yang belum pernah menikmati atau belum kenal dengan ‘santapan’ yang disebut dengan Internet.

Absen Mengajar…

Masa tugas 3 bulan bukan waktu yang singkat, jadi mau tidak mau saya harus absen mengajar. Sebagai pengajar honor, tentu ini bukan hal yang mudah untuk mengambil keputusan. Bisa saja ketika kembali, posisi pengajar sudah tergantikan. Namun, yang namanya tugas dan kerja semua ada konsekuensi yang harus ditanggung.

Meski absen mengajar di dalam kelas, namun hal ini tidak menjadi halangan untuk membagikan pengetahuan, masih ada blog sekolah dan grup di facebook yang bisa dijadikan media pembelajaran untuk anak-anak. Manfaatkan teknologi sebaik-baiknya. Kerja di bidang TI dan mengajar di bidang TIK, masa tidak bisa memanfaatkannya. Jarak menjadi lebih pendek, membagi pengetahuan tetap bisa dilakukan.

Sempurnakan Usaha!

Untuk mendapatkan hasil tertentu, sebelumnya harus menyempurnakan usaha. Dari 3 bulan waktu yang diberikan, sekarang sudah masuk ke bulan keempat.

Selama 110 hari saya berada di Kalimantan Barat, banyak hal yang saya hadapi. Tour of Duty… Yah, berpindah dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya. Ayah tercinta meninggal dunia—dan tidak sempat melihat untuk yang terakhir kalinya. Berkenalan dengan orang-orang baru, melihat kebudayaan yang berbeda, tipikal orang yang berbeda. Bertemu seseorang yang—Oops! Hahah… Masalah demi masalah yang datang silih berganti… Tapi semua itu harus tetap dihadapi, diselesaikan, diadaptasi.

Ada orang yang senang, maka ada pula orang yang tidak senang. Hal semacam ini bukan hal yang harus membuat semangat menjadi surut. Semua ada timbal-balik. Suatu yang bersifat wajar. Yang penting harus tetap berusaha. Anak-anak di Kalimantan Selatan adalah salah satu penyemangat. Mengingat keceriaan mereka, kejahilan mereka, bahkan kenakalan mereka. Mengingat mereka selalu membuat saya dapat tersenyum.

Bersyukur pernah mengajar…

Saya bersyukur pernah mendapat tugas mengajar, meski saya bukan pengajar yang baik—sepertinya. Hahahah… Tapi saya senang, saya merindukan mereka, ingin rasanya dapat berkumpul dengan mereka, mengajari mereka dengan metode saya sendiri—yang terbilang berbeda karena saya bukan lulusan perguruan tinggi bidang pengajaran. Jadi harap maklum.

Saya bersyukur mendapat izin mengajar dari Guru saya. Pengalaman berharga bagi saya, dengan mengajar saya mendapatkan tambahan pengetahuan, bahwa menghadapi setiap orang itu harus berbeda, disesuaikan dengan tipikal masing-masing orang, masing-masing anak. Dan, tidak bisa dipukul rata—disama ratakan.

Semua aktivitas yang saya lakukan di Kalimantan Barat selama 110 hari ini, masih belum bisa disebut usaha yang sempurna. Namun, hasilnya sudah cukup untuk saat ini.

Yang penting, saya hadapi dan saya jalani apapun itu dengan hati yang tetap senang, hadapi dengan senyum yang tulus dari dalam hati. Jalani dengan ikhlas. Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja. Insya Allah, Allah akan memberikan semua kebaikannya kepada saya, kepada kita semua.

Seorang murid tetaplah seorang murid, meski dia mendapat tugas mengajar. Ia harus tetap belajar hingga nafas terakhirnya.