Tags

, , , , , ,

Hari ini aku ingin menuliskan sesuatu tentang dirimu, boleh ‘kan? Setiap baca status BBM-mu “Əǩǖ Ƙά̲̣̣̣̥ηG̲̣̣̣̥є̲̣̥η…” Aku selalu tersenyum.. Meski kadang tanya-tanya dengan hati, “Untuk siapa ‘Əǩǖ Ƙά̲̣̣̣̥ηG̲̣̣̣̥є̲̣̥η…’ Itu..”

Lalu.. Jari-jari ini mulai gatal ingin mengetik di qwerty-pad Onyx2-ku, atau menekan touchscreen di android. Namun, kadang diurungkan…

Kadang, kalaupun jadi.. Harus menunggu lama baru dibalas atau telpon diangkat. Akhirnya, senyum-senyum sendiri, lalu manyun tak jelas.

Dan, ternyata merindukanmu itu seru. Seru, karena aku harus menyerukan hatiku untuk menahan dalam-dalam rasa rindu yang ada. Bahkan, andai memungkinkan.. Hatiku yang terdalam jangan sampai tahu bahwa ada rindu yang sedang menggelitik…

Merindukanmu semakin seru, bagaikan main petak umpet. Karena, aku bahkan tidak tahu kapan ini bermula. Sejak kapan rasa dalam bentuk hasrat selalu ingin bertemu ini muncul. Sejak kapan aku mulai mengontrol mimpiku agar hanya memimpikanmu. Sejak kapan aku mulai ingin selalu menggodamu, melihat senyummu, melihat wajahmu, mendengar suaramu.

Mungkin inilah cara اللّه untuk membuatku ingat, bahwa hatiku tidak sekeras batu, tidak sedingin bongkahan es. Tetapi terbuat dari segumpal darah segumpal daging, yang bisa hangat–juga bisa dingin.

Sekarang, aku berharap bisa selalu main petak umpet dan terus bersembunyi. Rindu ini terasa semakin seru ketika aku mulai berharap kamu hadir dan selalu hadir dalam kehidupanku.

Meski aku tahu, bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang siapa dirimu. Karena aku hanyalah seorang umat yang bersifat hamba kepada اللّه, dhoib dan karam dalam lautan dosa.

Kuakhiri tulisan tentangmu ini dengan sebuah senyuman dan sebuah doa “Insya اللّه”.