Tags

,

Siang tadi iseng, main BlackBerry Voice Chat dengan salah satu “My Dear Girl” yang pindah sekolah ke provinsi lain. Obrolan sederhana—setidaknya bagi saya. Namun mendadak jadi luar biasa—juga, setidaknya bagi saya.

Lalu apa “Shocking-nya..?!?”

Aaach just a little bit shock… huehueh. Di sekolah yang baru, dia aktif di ekskul yang sama seperti saat masih di sekolah tempat saya bertugas mengajar dan melatih saat ini.

Cerita dimulai dari tiadanya dukungan dari pihak sekolah terhadap ekskulnya, sampai pada sebuah ancaman tidak naik kelas jika dia masih aktif di ekskul tersebut. Sementara ekskul lain dapat dukungan, tapi kenapa yang satu ini berbeda.

Jika tidak mendukung seperti masih wajar. Tapi jika mengancam siswanya dengan “Tidak naik kelas, jika tetap aktif di ekskul tersebut”, saya rasa ini sudah berlebihan. Karena jika minat dan bakat siswa dikebiri justru hal tersebut akan mengebiri salah satu potensi kecerdasannya.

Seseorang disebut cerdas tidak hanya dilihat dari sisi kognitifnya saja, tapi dari psikomotorik dan afektifnya. Iya betul jika kognitif kurang bagus dia sulit untuk bisa masuk ke Perguruan Tinggi—mungkin. Tapi di dunia kerja, apa iya hanya itu yang dilihat, perusahaan-perusahaan tertentu banyak yang mensyaratkan keahlian dalam lowongan kerjanya. Lantas dari mana siswa mendapatkan keahlian jika ia dilarang untuk mengikuti ekskul yang mana salah satu kontribusinya adalah memberikan atau mengajarkan suatu keahlian.

Kecerdasan itu bukan hanya satu, tapi delapan—sembilan malah. Tanggapan saya atas cerita “tutee” saya tersebut adalah “Tidak ada alasan sekolah tidak menaikkan kelas jika nilainya bagus, ditunjang dengan afektif yang baik, apalagi kalau psikomotoriknya juga bagus”.

Ekskul dapat membina mental siswa, kedisiplinan, ketekunan, kepercayaan diri, dan banyak lagi hal positif lainnya. Hal ini perlu disadari. Prestasi seorang siswa itu jangan hanya dilihat dari kognitifnya saja, tapi juga dari afektif dan psikomotorik. Kognitif bagus itu bisa saja dia dapat dari hasil MENYONTEK, KECURANGAN LAINNYA. Pandai tetapi afektifnya jelek sama saja dengan NOL. Keahliannya bagus tetapi afektifnya jelek sama juga dengan NOL. Ketiga ranah ini adalah satu kesatuan yang jangan pernah dipisahkan. Pandai tapi tak bermoral sama saja dengan Penjahat.

Bagi saya pribadi, selagi ekskul tersebut memberikan nilai-nilai pembelajaran positif pada siswa, dapat meningkatkan minatnya belajar, untuk terus mencari tahu dan terpacu untuk bisa (Bisa dan Tahu). Kenapa tidak..!!!

Cobalah untuk melihat sesuatu itu dari sisi siswa, berkata dengan bahasa yang rendah, tidak dengan bahasa “DEWA“, yang sulit dimengerti atau diterimanya. Di sekolah, kita perlu juga mengajari mereka bagaimana ber-attitude yang baik, yang pantas. MORAL. MORAL. MORAL. KEJUJURAN. Sifat Pantang Menyerah. Sifat Untuk Terus Menyempurnakan Usaha, Agar Mendapatkan Hasil Tertentu. Dengan melihat kecenderungan kecerdasan mereka. Mendukung bukan Mematikan.

Tidak pula membela siswa yang jelas-jelas ber-attitude buruk, berkata tidak sopan pada orang yang lebih tua. Lantas di mana pembelajaran Adab, Akhlak dan Budi Pekertinya. Jika hal yang seperti itu malah dibela/didukung? Sementara yang jelas-jelas bisa memberikan nilai pembelajaran yang positif malah dilarang, dihalang-halangi.

Sederhananya jika kita meminta siswa belajar, kitapun harus belajar. Seperti semboyan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia ke-1, Ki Hadjar Dewantara: “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. (“di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”).”

Afektif – Kognitif – Psikomotorik (ranah pendidikan) harus terus digunakan sebagai jalur. Apalagi sekarang ini nilai sebuah KEJUJURAN itu seakan-akan tidak ada apa-apanya—tak ada artinya. Sudah waktunya untuk kita berkata “CUKUP!” untuk hal-hal yang merusak mental dan moral. Dan, mempelajari kembali apa kontribusi kegiatan ekstrakelas/ekskul. Setuju?