Tags

, , ,

Pernah suatu waktu, saya menceritakan sekilas kehidupan saya saat masih menjadi seorang siswa SD kemudian SMP dan kemudian SMA. Dulu saya punya kebiasaan merekam apa-apa yang saya alami ke dalam sebuah buku catatan harian. Jika suatu hal itu tidak terlalu penting untuk diingat, maka saya tuliskan saja ke dalam catatan, karena saya tidak ingin meski itu hal kecil, hal tersebut tidak terdokumentasikan. Sebab, kadang hal kecil tersebut bisa membawa kita kepada sesuatu yang besar.

Sebagian dari catatan harian itu kemudian saya tuang menjadi sebuah cerita (novel) yang memang sampai saat ini belum saya publikasikan, sebagian lagi menjadi puisi. Kadang ada masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari saya, dan “Buntu” belum menemukan solusinya. Maka saya buka catatan harian saya, dan seperti yang saya sebutkan tadi, hal kecil bisa membawa kita kepada sesuatu yang besar.

Apa yang saya rekam ke dalam sebuah catatan harian, ternyata bisa menjadi pemecahan masalah yang “Buntu” tadi. Kebiasaan inilah yang saat ini berusaha saya wariskan kepada anak-anak (yang seharusnya cerdas) di sekolah tempat saya mengajar. Bahwa mereka harus mulai belajar menyimpang hal-hal yang mereka alami, mereka rasakan, ke dalam sebuah catatan harian. Sehingga otak hanya perlu mengingat hal-hal penting yang berhubungan dengan pelajaran, pengetahuan, dan keahlian yang sangat dibutuhkan selama mereka duduk di bangku SMA.

Namun, sepertinya saya harus menghadapi tantangan besar …, yaitu keengganan anak-anak untuk menulis, membaca, mencari tahu, bahkan mengenali dirinya sendiri. Jiwa-jiwa labil itu masih perlu sentuhan-sentuhan motivasi. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah kumpul dengan teman, main, jalan-jalan, santai-santai.

Dari sudut pandang saya, mereka ini adalah anak-anak terlantar, terdiskriminasi dengan sebuah kata “Sisa”. Jika kemudian muncul perdebatan siapa yang salah dalam hal ini, banyak sekali jawabannya. Orang tua, guru-gurunya, lingkungannya, teman-temannya, bahkan diri mereka sendiri.

Catatan harian, yang bagi saya selain sebagai suatu media dokumentasi ingatan, kenangan, dan rasa, juga sebagai media untuk belajar menyusun kata, meningkatkan kemampuan dalam kosakata. Di mana sebuah masalah muncul yaitu lemah di kosakata, sehingga sering kali keliru memahami sebuah kalimat, sebuah pertanyaan, bahkan kalimat yang sangat sederhana.

Bagaimana tidak, mereka tidak paham bahwa kalimat ini berbeda: “Jelaskan langkah-langkah menjalankan aplikasi” dengan “Tetapkan langkah-langkah pembuatan”, sehingga dijawab dengan jawaban yang sama, atau bahkan terbalik. Hal ini—menurut saya—disebabkan karena mereka tidak pernah diberikan sebuah tantangan kosakata yang berbeda-beda, tidak pernah diarahkan untuk meningkatkan keterampilan menulis, membaca, menganalisa, dan memilah-milah definisi dari beberapa kosakata.

Jika saja mereka terampil dalam menyusun kalimat, menuangkan sebuah ide, pandangan, atau pemahaman ke dalam sebuah tulisan, kemampuan menganalisa mereka juga akan meningkat—diharapkan begitu. Meski keterampilan tersebut diawali dengan—hanya—menulis sebuah catatan harian aktivitas mereka.

Jadi bagaimana Sumber Daya Manusia Indonesia bisa berkembang, jika keterampilan menulis saja, anak-anak tidak menguasainya dengan baik… Ini merupakan sebuah masalah yang harus dipecahkan, setidaknya oleh saya yang sedang berhadapan dengan tantangan ini.