Tags

,

Selain uraian/pembahasan mengenai kedelapan kecerdasan, ada beberapa hal (point) kunci tentang model Teori Multiple Intelligences (MI) yang perlu juga untuk diperhatikan, yaitu:

  1. Setiap orang itu memiliki kedelapan kecerdasan. Teori Multiple Intelligences bukanlah suatu “Teori Jenis” untuk menentukan satu kecerdasan yang sesuai pada diri seseorang. Namun, kedelapan kecerdasan tersebut berfungsi secara bersamaan dengan cara yang berbeda-beda pada diri setiap orang. Beberapa orang memiliki tingkatan yang sangat tinggi pada semua atau hampir semua kecerdasan, misalnya: Johann Wolfgang von Goethe (seorang penyair, negarawan, ilmuwan, naturalis dan filsuf) asal Jerman. Sebagian lagi—yang lain—seperti yang ada di lembaga-lembaga keterbelakangan mental, tampaknya memiliki kekurangan dalam semua aspek kecerdasan, kecuali aspek kecerdasan yang paling mendasar (namun itupun belum tentu benar, bahwa orang tersebut memiliki keterbelakangan mental). Secara umum, kita berada di antara dua kutub ini—sangat berkembang dalam sejumlah kecerdasan, cukuk berkembang dalam kecerdasan tertentu, dan relatif agak terbelakang dalam kecerdasan yang lain.
  2. Seseorang umumnya dapat mengembangkan setiap kecerdasan sampai tingkat penguasaan yang memadai atau sampai pada kondisi akhir terbaik. Meski kadang ada orang yang akan menyesali kekurangan di wilayah kecerdasan tertentu dan mengganggap masalah ini sebagai masalah bawaan dan tak dapat diubah lagi, Gardner berpendapat bahwa setiap orang sebenarnya memiliki kemampuan mengembangkan kedelapan kecerdasan tersebut sampai pada kinerja tingkat tinggi yang memadai atau kondisi akhir terbaik, apabila dia memperoleh cukup dukungan, pengayaan, pengajaran, dan stimulus khusus.
  3. Kecerdasan-kecerdasan umumnya bekerja bersamaan dengan cara yang cukup kompleks. Gardner menunjukkan bahwa setiap kecerdasan yang telah dibahas sebelumnya sebenarnya hanyalah “Rekaan”, yaitu tak ada kecerdasan yang berdiri sendiri dalam kehidupan sehari-hari (terkecuali, mungkin untuk kasus-kasus yang sangat langka pada diri savant[1] dan orang yang mengalami cedera otak). Kecerdasan selalu berinteraksi satu sama lain.
  4. Ada banyak sekali cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori. Tak ada rangkaian atribut standar yang harus dimiliki seseorang untuk dapat disebut cerdas dalam wilayah tertentu. Oleh karena itu, seseorang mungkin saja tak dapat membaca, tetapi memiliki kecerdasan linguistik yang tinggi karena dia dapat menyampaikan cerita memukau atau memiliki kosakata lisan yang luas. Demikian pula dengan orang yang mungkin tampak canggung ketika berada di lapangan olahraga, tetapi memiliki kecerdasan kinestetik yang luar biasa ketika dia menjahit pakaian, merajut karpet, atau membuat patung yang indah.

Tambahan:

Kecerdasan Kesembilan → Kecerdasan Eksistensial

Kecerdasan Eksistensial adalah kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia. Orang tak puas hanya menerima keadaannya, keberadaannya secara otomatis, tetapi mencoba menyadarinya dan mencari jawaban yang terdalam. Pertanyaan itu antara lain: mengapa aku ada, mengapa aku mati, apa makna dari hidup ini, bagaimana kita sampai ke tujuan hidup.

Kecerdasan ini tampaknya sangat berkembang pada banyak filsuf, terlebih filsuf eksistensialis yang selalu mempertanyakan dan mencoba menjawab persoalan eksistensi hidup manusia. Filsuf-filsuf seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Kindi, Ibnu Rusyd, Socrates, Plato, Thomas Aquinas, Descartes, Kant, Sartre, Nietzsche termasuk mempunyai kecerdasan eksistensial tinggi.

  1. Baca Savant Syndrome: Savantism adalah kondisi langka di mana orang dengan keterlambatan perkembangan otak (terutama spektrum autisme), dan/atau cedera otak, menunjukkan kapasitas mendalam dan luar biasa dan/atau kemampuan yang jauh melebihi apa yang akan dianggap normal.