Tags

, ,

Tiba-tiba kelas itu menjadi sunyi senyap seperti kuburan, yang terdengar hanya suara sang guru yang asyik dengan ceramahnya tentang materi pembelajaran hari itu. Guru Mengajar = Murid Belajar …, ah masa iya begitu. Pada kenyataannya, di sudut-sudut ruangan ada siswa atau siswi yang “Guk-angguk, geleng-geleng, tunduk-tunduk karena mengantuk.” Ada juga yang asyik dengan obrolan dengan teman sebangku, ada yang melamun, dan banyak lagi tingkah polah mereka.

Begitu sang guru bertanya, langsung deh *tuulaaaliiit… tuulaaaliiit… tuulaaaliiit…* karena informasi yang disampaikan tidak tersimpan ke dalam STM (Short-term Memory). Apa penyebabnya, hari ini saya coba menuliskannya dalam artikel ini. Tentunya setelah membaca banyak literatur yang saya jadikan sumber referensi.

Adalah Bobby DePotter, dengan bukunya yang bagus “Quantum Learning”, dia menulis tentang Gaya Belajar, memang banyak istilah yang berbeda-beda dalam memahami gaya belajar ini. Namun menurutnya, terdapat dua benang merah yang disepakati tentang gaya belajar. Pertama adalah cara seseorang menyerap informasi dengan mudah, yang disebut sebagai Modalitas, dan kedua adalah cara seseorang mengolah dan mengatur informasi tersebut.

Modalitas belajar adalah cara seseorang menyerap informasi melalui indera yang mereka miliki. Masing-masing orang mempunyai kecenderungan yang berbeda-beda dalam menyerap informasi. DePotter menyebutkan, bahwa terdapat tiga modalitas belajar, yang disingkatnya dengan V-A-K: Visual, Auditorial, Kinestetik.

Pernahkah ucapan-ucapan seperti ini, keluar dari mulut Anda?

“Aku mengerti masalahnya” atau “Nampaknya itu cocok untukku”? atau mungkin Anda sering mengucapkan “Hal itu mengingatkan sesuatu” atau “Kedengarannya itu cocok untukku”?

Ungkapan-ungkapan semacam ini bisa menjadi petunjuk kecenderungan modalitas belajar Anda. Pernah, saat mengawali Temu Muka Pertama dengan para siswa-siswi saya yang baru—Anak-anak cerdas, Anak-anak juara—di Sekolah Menengah tempat saya bertugas—dengan sebuah cerita mengenai masa-masa saya bersekolah. Dalam cerita tersebut saya sisipkan mengenai gaya belajar saya, diakhir pertemuan saya beri mereka sebuah tugas untuk menulis sebuah buku—sebuah proyek satu semester, bertajuk “Redefine Your Lesson Proposal”. Menarik sekali… dengan penuh kegembiraan saya membaca draft buku mereka. Gaya belajar, ya gaya belajar, mereka semua ingin menemukan gaya belajar mereka.

Modalitas Belajar

Seseorang dikatakan tidak mempunyai gaya belajar jika ia tidak dapat melihat atau mendengar, atau, jika ia tak dapat merasakan tekstur, bentuk, temperatur, atau berat, atau penolakan di lingkungan. Kebanyakan kita—bahkan saya—belajar dengan banyak gaya, namun kita biasanya lebih menyukai satu cara daripada yang lainnya. Masih banyak orang yang tak menyadari bahwa mereka lebih suka pada satu gaya, karena tak ada sesuatu yang eksternal yang mengatakan kepada mereka bahwa mereka berbeda dari orang lain.

Mengetahui bahwa terdapat perbedaan besar dalam menjelaskan hal-hal seperti mengapa kita mempunyai masalah dalam memahami dan berkomunikasi dengan beberapa orang, dan tidak bermasalah dengan orang lain, atau mengapa kita dapat mengatasi suatu keadaan—atau masalah—lebih mudah daripada orang-orang yang lain.

Satu pertanyaan, “Bagaimana menemukan modalitas yang kita sukai?” secara sederhana adalah dengan mendengarkan petunjuk-petunjuk dalam pembicaraan kita, seperti dalam ungkapan-ungkapan yang saya tulis di atas tadi. Cara lain adalah dengan memperhatikan perilaku kita ketika berada dalam kelas, atau menghadiri sebuah seminar atau lokakarya. Apakah tampaknya kita menyerap lebih banyak informasi dari membaca makalah atau dengan mendengarkan penyajinya?

Orang-orang auditorial lebih suka mendengarkan materinya dan kadang-kadang kehilangan urutannya jika mereka mencoba untuk mencatat materinya selama proses pembelajaran atau presentasi berlangsung. Orang-orang visual lebih suka membaca makalah dan memperhatikan ilustrasi yang ditempelkan pembicara di papan tulis atau tampilan di Layar LCD Proyektor. Mereka juga membuat catatan-catatan yang sangat baik. Orang-orang kinestetik lebih baik dalam aktivitas bergerak dan interaksi kelompok.

V-A-K: Visual, Auditorial, Kinestetik. Visual: Belajar dengan cara melihat. Auditorial: Belajar dengan cara mendengar. Kinestetik: Belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh.

Itu dulu ya, segera dilanjutkan pada Gaya Belajar Part II.