Tags

, ,

Tersenyum itu mudah, dan tidak bayar. Namun, tersenyum tanpa ketulusan adalah kebohongan. Bisakah seseorang tersenyum di saat badai (musibah, kegagalan, dll), itu yang jadi pertanyaan.

Saya ambil contoh, Proses Belajar Mengajar di sekolah. Bulan ini proses belajar mengajar sudah mencapai klimaks, dengan pembagian raport. Tentu hasil dan ekspresinya bervariasi bahkan respon para orang tua juga bervariasi. Ada senang, sedih, kecewa, jengkel, marah, ada pula yang biasa-biasa saja.

Saya pribadi, semasa masih menjadi siswa. Punya kelemahan di sana-sini. Pengalaman paling membekas dalam ingatan saya adalah saat Guru Matematika yang juga Wali Kelas saya di Kelas 6 SD, marah besar, karena saya benar-benar—maaf—bebal, meskipun sudah diberi penjelasan berkali-kali. Hingga, akhirnya rambut saya dijambak dan kepala saya diguncang-guncang. Dan, saya—bisa disebut saat itu sedang teraniaya—hanya tersenyum.

Saya pernah pandai, pernah pula selalu kesulitan dalam pelajaran. Diskriminasi pertama yang saya alami saat duduk di kelas 5 SD, di mana Guru kami mengelompokkan kami berdasarkan apa yang disebut dengan “Pandai” dan “Bodoh”, siswa “Pandai” dikelompokkan jadi satu, begitu dengan dengan siswa “Bodoh”, dan kalimat yang paling tidak suka saya dengar, yang diucapkan oleh seorang teman kala itu adalah “Hahaha, terkumpul yang bodoh-bodohnya”. Waktu itu saya masih belum tahu manfaat tersenyum. Sehingga saya masih mengikuti emosi—maklum anak kecil.

Dari pengalaman di masa lalu itu, saya berpendapat. Betapa kelirunya seorang guru, menghakimi siswa-siswinya dengan mengelompokkan mereka berdasarkan dua kata “Pandai” dan “Bodoh”, tanpa melihat apa sebenarnya yang menjadi kesulitan mereka. Sedangkan Allah yang menciptakan kita saja tidak melakukan hal tersebut.

Pada saat saya mengawas Ulangan Remedial di sekolah, saya pernah bersuara dengan intonasi tinggi, “Kalian ini niat remedial tidak, kalau tidak niat mending tidak usah, buang-buang uang. Iya kalau uang itu uang kalian sendiri, tapi itu adalah uang orang tua kalian”. Pernah juga bersuara begini, “Tidak usah nyontek, karena pasti akan ketahuan. Dan, kalian sendiri yang rugi”. Entahlah—mungkin ucapan itu hanya dianggap angin lalu, atau apalah, saya juga tidak tahu. Tapi hasilnya seperti yang saya prediksikan. Tinggal Kelas.

Kemudian, berbondong-bondong pindah sekolah. Saya pribadi tidak melihat itu adalah sebuah solusi. Lebih seperti sebuah manuver untuk menghindari trauma. Tidak memberikan nilai pembelajaran sama sekali. Anak tidak belajar dari pengalamannya, tidak belajar untuk menjadi orang yang tangguh, bermental kuat. Rasa malu juga bukan hal yang bisa dijadikan alasan. Selama belum menyadari apa penyebab kesulitan dalam belajar, kemanapun dipindahkan sang anak belum tentu akan berhasil. Kesulitan dalam belajar, itu yang harus segera dicari, salah satu jalannya adalah dengan Bimbingan Konseling. Karena, seorang anak terlahir dengan Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk). Kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses tidaknya peserta didik belajar di sekolah. Peserta didik yang mempunyai taraf kecerdasan rendah atau di bawah normal sukar diharapkan berprestasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan tinggi seseorang secara otomatis akan sukses belajar di sekolah.

Dalam buku konsep dan makna pembelajaran (Sagala, 2005 : 84) memaparkan 8 kecerdasan yaitu kecerdasan verbal/bahasa, kecerdasan logika/matematika, kecerdasan spasial/visual, kecerdasan tubuh/kinestetik, kecerdasan musical/ritmik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan spiritual. Teori ini dikemukakan oleh Howard Gardner. Jadi perlu kiranya agar tidak serta merta menghakimi seorang anak, karena meskipun orang tuanya sendiri, jika mereka tidak mengetahui bagaimana anaknya secara utuh, mereka hanya akan memperburuk keadaan si anak.

Seperti kata Goethe, “Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya”. Dan, menurut saya. Itu sama halnya dengan orang yang tidak mengambil hikmah dari suatu kejadian, orang yang hidup dengan ketidakmengertian akan menjadi hampa.

Seperti kata Guru saya, “Menuntut ilmu itu hingga kita mati”. Saya mengambil i’tibar dari kehidupan Guru saya sehari-hari, beliau selalu tersenyum, meskipun ada “Badai” yang sedang melanda kehidupan beliau. Bagaimana Guru begitu pula seharusnya Muridnya, dan sebagai Murid, saya berusaha melakukan seperti yang beliau lakukan. Tersenyum. Meskipun tersenyumnya saya bisa berarti macam-macam. Tersenyum karena tidak suka, karena jengkel, karena marah, atau karena itu saya anggap biasa. Namun, sejak awal saya sudah mengatakan “Terserah orang mau suka, jengkel, marah, dendam, atau apalah itu. Saya tidak keberatan”. Jadi jika ada orang membicarakan saya, atau bahkan memfitnah saya, saya akan meresponnya dengan tersenyum.

Jadi apapun yang sedang kita alami, Tersenyumlah dengan Hati yang Tulus. Insya Allah, akan ada hikmah yang bisa kita dapat dari “Badai” yang menerpa kehidupan kita. Tetap semangat, tetap sehat, sehingga kita bisa tetap belajar. Karena kita adalah objek pembelajaran. Tidak ada pelajar bodoh dan tidak ada pelajaran yang sulit. Tidak ada pelajar bodoh yang ada hanyalah pelajar malas. Allah menciptakan manusia itu sempurna, tidak ada yang cacat atau gagal.