Tags

,

Saya masih ingat ucapan Slamet—teman sekelas saya waktu di Kelas 1 SMA. Setelah kenaikan kelas dia memilih jurusan A2 (IPA Biologi) dan saya memilih A3 (Ilmu Sosial). Satu semester sudah dilalui. Dan dia bertanya pada saya, “Kenapa waktu itu kamu pilih A3, padahal IPK-mu bisa untuk masuk A1 atau A2?” Sambil tersenyum saya menjawab, “Karena saya unik, tidak seperti teman lain yang suka ikut-ikutan dan saya suka santai!” Lalu saya balas bertanya, “Kenapa memangnya?” dan Slamet menjawab, “Menyesal aku masuk jurusan A2, ternyata aku tidak sanggup dengan pelajarannya”. Saya sudah pasti “No Comment“.

Tapi bukan pembicaraan itu yang ingin saya tulis, melainkan Pelajaran yang menyenangkan di jurusan IPS. At least itu bagi saya.

  1. Mempelajari Hal-hal yang Dinamis
    Di Jurusan IPS, kita belajar banyak hal yang dinamis atau mudah/cepat berubah. Sebuah pernyataan yang keluar dari seseorang pada tahun 1999 ternyata bisa dipatahkan oleh orang lain pada tahun 2008 dengan alasan mengikuti perkembangan zaman.
  2. Melatih Kemampuan Berdiskusi dan Berdebat
    Di Jurusan IPS, banyak terjadi perbedaan pendapat yang sangat mungkin menimbulkan perdebatan. Prinsip ilmu yang tidak pasti membuat kita dilatih untuk berpikir kritis dalam memandang suatu masalah. Kita dituntut untuk tidak langsung menerima dan menelan mentah-mentah suatu pernyataan. Selanjutnya, perdebatan yang terjadi akan lebih enak buat kita karena masalah yang diperdebatkan cenderung dekat dengan kehidupan sehari-hari.
  3. Mempelajari Ilmu yang Mudah Diterapkan di Kehidupan Sehari-hari
    Ada yang berkata “IPS itu jurusan hafalan”. Wahwah, itu salah besar. Sebenarnya semua jurusan itu ada hafalannya dan ada juga prakteknya. Sangat disayangkan ketika masih banyak yang belum menyadari adanya praktek di jurusan IPS. Padahal pelajaran-pelajaran seperti Ekonomi, Geografi, Sosiologi justru lebih mudah diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Kita bisa mencatat pengeluaran uang jajan kita. Kita juga bisa mengamati bahkan memberikan solusi pada berbagai penyimpangan sosial di sekitar kita. Yang lebih mantab lagi—kalau kita kebetulan pulang kampung, kita bisa mengamati sistem irigasi di sana. Sebenarnya masih banyak lagi tapi itu dulu sajalah. Kalau masih kurang bisa cari sendiri.
  4. Cocok untuk Siswa yang Ingin Aktif Berorganisasi
    Masa-masa SMA bisa dibilang masa yang paling menyenangkan dan cocok untuk belajar berorganisasi. Kenapa begitu? Ini dikarenakan masa SMA adalah masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Sehingga kita membutuhkan bekal-bekal yang nantinya akan kita butuhkan di masa dewasa. Nah, salah satunya adalah kemampuan berorganisasi. Di Jurusan IPS beban pelajaran cenderung lebih ringan dibanding jurusan IPA yang biasanya dipenuhi banyak tugas. Bahkan saya malah meningkat prestasi akademiknya semenjak masuk Jurusan IPS dan aktif berorganisasi.
  5. Prospeknya Lagi Cerah
    Dahulu kala saat Orde Baru Jurusan IPA seakan lebih diunggulkan. Tahu kenapa? Itu dikarenakan pada masa pembangunan seperti saat itu kita memang banyak membutuhkan insinyur dan ilmuwan. Tapi sekarang, trend sudah berubah. Ketika krisis global sedang melanda dunia, kita membutuhkan banyak ekonom yang punya pemikiran revolusioner. Kita juga membutuhkan banyak sosiolog untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial di negara ini. Kebetulan saya pernah kuliah di Fakultas Ekonomi, dan Ekonomi di SNMPTN masuk dalam jurusan IPS. Jadi alhamdulillah saya menjadi anak sosial karena soal-soal yang saya kerjakan dulu, adalah soal IPS dan alhasil saya juga diterima (lewat jalur PBUD tapi). Selain itu, PGSD—kata orang prospek kedepannya bagus…

Saya beri contoh: Warren Buffet, salah satu orang terkaya di dunia, meraih kesuksesan karena pengetahuan ekonomi. Ekonomi dipelajari di jurusan IPS bukan IPA. Para pebisnis pun memerlukan pengetahuan sosial yang penting, seperti Ilmu Marketing, Akuntansi, dan pengetahuan sosial lainnya yang merupakan dasar yang perlu dimiliki oleh seorang CEO. Jadi jangan pernah memandang rendah jurusan IPS dan jangan pula terlalu memandang jurusan IPA merupakan jurusannya siswa pintar.

Contoh lagi, mantan Wakil Presiden Indonesia yang pertama H. Mohammad Hatta, menempuh studi di Sekolah Tinggi Dagang “Prins Hendrik School”, kemudian pergi ke Rotterdam, Belanda untuk belajar ilmu perdagangan/bisnis di Nederland Handelshogeschool. Dan, beliau dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Lalu mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, beliau seorang pebisnis lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin (1967), dan sekarang menjadi Ketua Umum Palang Merah Indonesia — Kepengurusan PMI 2009 – 2014. Terakhir Wakil Presiden yang sekarang bapak Boediono. Beliau dosen saya waktu kuliah di Fakultas Ekonomi UGM, Jogjakarta.

Nah, intinya… “Jangan pernah merasa rendah dan jangan pula merendahkan, kritislah, belajarlah, tuluslah dan jujurlah”. Tidak ada orang yang bodoh, yang ada hanyalah orang yang malas.