Tags

, , ,

Dari dulu hingga sekarang, ini yang jadi masalah klasik—yang sering—dialami oleh siswa SMA, yaitu memilih jurusan. Memilih jurusan menjadi penting karena berkaitan dengan masa depan. Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada umumnya banyak menjadi favorit, dibandingkan jurusan lain yaitu IPS dan Bahasa.

Banyak alasan yang membuat IPA menjadi pilihan baik oleh siswa maupun orang tua siswa. Pertama, mungkin disebabkan oleh faktor fleksibilitasnya saat hendak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ada anggapan bahwa jurusan IPA lebih siap masuk ke semua jurusan, mulai dari Kedokteran, Farmasi, Keperawatan, Kebidanan, hingga Ilmu Sosial dan Sastra. Selain itu ada juga lembaga-lembaga pendidikan kepemerintahan yang menjadikan jurusan IPA sebagai syarat penerimaan, tidak yang lain. Hal ini disebabkan oleh materi-materi di institusi pendidikan yang bersangkutan, banyak mengenai ilmu pasti. Kedua, alasan prestise…, jadi anak IPA dianggap memiliki derajat intelektualitas yang lebih tinggi dari pada masuk kelas lain.

Untuk masuk jurusan IPA pada dasarnya memang relatif lebih sulit. INGAT! RELATIF! Ada juga siswa yang memang merasa lebih gampang masuk IPA karena hanya perlu pemahaman teori daripada IPS atau Bahasa, yang dibeberapa bagian menitik-beratkan pada hafalan. IPA menjadi relatif sulit bagi siswa yang “Kurang Suka” dengan angka dan rumus. Hampir semua mata pelajaran IPA tidak terlepas dari angka dan rumus, kecuali Mata Pelajaran Biologi—mungkin—lebih mengarah kepada pemahaman dan hafalan.

Tapi apa iya siswa harus memaksakan diri sedemikian rupa supaya bisa masuk jurusan IPA, termasuk orang tuanya? Hal, yang berhubungan dengan pemaksaan jarang—bahkan tidak—membuat seseorang dapat menggunakan seluruh potensi dirinya. Terpaksa dan Tidak Tulus dalam menuntut ilmu, hanya akan mendatangkan kebuntuan intelektual. Selalu terlambat menerima dan memahami pelajaran, cepat sekali jenuh, dan pada akhirnya tidak maksimal menggunakan potensi dan kinerjanya. Sehingga siswa mengalami kesulitan belajar dan seringkali mendapat hasil belajar rendah dibanding dengan kemampuan intelektual yang dimilikinya dan menjadi kurang bahagia. Sehingga pada akhirnya muncullah Ketidakjujuran.

In My Humble Opinion:

Jika ditanya IPA vs IPS mana yang lebih baik, saya akan menjawab dengan pasti dan tegas “Tidak Ada!” karena semua jurusan punya kelebihan dan peranan masing-masing—kelak di masyarakat. Jika dulu setelah kemerdekaan jurusan IPA lebih populer, itu karena negara ini memerlukan banyak engineer, nah sekarang disaat negara kita sudah berkembang, kemajuan sains dan teknologi membawa efek di masyarakat, misalnya pencemaran limbah, atau pembukaan lahan baru untuk suatu industri, di sini dibutuhkan orang-orang yang menguasai Ilmu Sosial, untuk meng-counter efek dari sains dan teknologi tersebut.

Nah, jika ingin memilih jurusan, tentunya harus naik kelas dulu ‘kan? Jadi fokuslah untuk naik kelas dulu, baru memikirkan langkah selanjutnya. Pilih jurusan sesuai dengan minat dan bakat masing-masing bukan karena opini atau persepsi yang tidak realistis tentang IPA, IPS, dan Bahasa. Dalam memilih jurusan kita harus mengenali terlebih dahulu siapa kita, kemampuan (kelebihan dan kekurangan), minat dan bakat…, kalau perlu lakukan analisis SWOT. Apa itu SWOT, sudah pernah saya tulis pada posting berjudul Rancang Masa Depan. Kalau pernah baca buku “Seni Berperang (Art of War) Sun Tzu”, Insya Allah—akan dapat suatu pelajaran berharga jika bisa memahaminya.

Beware:

Jangan membuat IQ jadi jongkok hanya karena suatu opini atau persepsi tentang suatu jurusan dalam pendidikan dan keilmuan.

Khusus untuk IPS:

Jangan kira siswa IPS tidak mempelajari ilmu eksakta, sebenarnya ada, yaitu EKONOMI. Dalam ilmu ekonomi, nantinya kalian akan bertemu dengan Ekonomi Micro, Ekonomi Makro, Statistik, Matematika, Ekonometri, Ekonomi Sumber Daya Manusia, dan beberapa sub lainnya. Yang kesemuanya akan berurusan dengan angka dan rumus, yang bahkan lebih rumit karena berhubungan dengan aspek-aspek sosial kemasyarakatan, psikologi sosial, dan lain-lain.

Einstein vs Chuck Norris

OOT: Originally Einstein understands everything. One day he made a mistake by saying a man can’t move at the speed of light. Then Chuck Norris came and proved him wrong. The result was a footprint right in his face, and he forgot how to understand women *LoL*

Jadi, jangan pernah merasa rendah dan jangan pernah merendahkan. Semua jurusan sama saja. Menurut para ahli, justru studi sosial perlu dilakukan dengan analisa yang membutuhkan kemampuan logis yang kuat. Dan tidak ada rumus jempol untuk pelajaran sosial yang dapat dibuat, bahkan oleh seseorang sekelas Einstein sekalipun.

Bersambung ke IPA vs IPS Part 2 – Kesalahan di Masa Lalu