Tags

, , ,

Perkembangan teknologi sangat pesat dan dimanfaatkan dalam setiap aspek kehidupan. Itu pasti. Tapi saya—kadang mendengar seseorang berucap begini “Saya gaptek!” kepada saya. Seperti biasa hanya menanggapi dengan senyuman dulu, baru setelahnya saya balas begini “Gaptek kok bisa Fesbukan (Facebook), bisa internetan, bisa menggunakan ponsel, bisa memakai komputer!“. Kadang dalam nada dingin atau sarkastis—bahkan sinis.

Namun, teknologi bukan saja membawa Manfaat tetapi juga Mudharat. Menjadi manfaat jika sang pengguna memanfaatkan teknologi dengan benar (dengan Akhlak) tetapi menjadi mudharat jika sang pengguna memanfaatkan teknologi secara brutal dan salah (dengan Nafsu).

Tulis saja satu kalimat—maaf—”Kau bodoh!” di akun FB misalnya, maka teknologi sudah digunakan untuk hal yang mudharat. Teknologi juga sering digunakan—bahkan selalu, untuk media publikasi—baik itu publikasi positif maupun negatif. Segala penyalahgunaan pasti ada konsekuensi yang harus ditanggung—cepat atau lambat.

Internet adalah gudangnya ilmu, tetapi juga gudangnya kejahatan. Jadi bisa-bisa kita sendiri saja yang memanfaatkannya. Kalau saya pribadi, yang notebene malas membeli buku, saya cari saja di internet.

Jika saya ingat kembali ucapan Guru saya, “Jangan urusi urusan orang lain, cukup urusi urusanmu sendiri”, “Jangan gosip, adu asah, apalagi fitnah—bakafiran (dalam Bahasa Banjar)“. Teknologi memang mempermudah, tapi di satu sisi ada bala yang mengintai sang pengguna. “Jika kamu punya anak, dan anakmu menyalahgunakan teknologi dan dapat masalah karenanya, jangan salahkan anakmu—tapi salahkan dirimu yang bodoh, tidak mendidik anakmu dengan Ilmu Agama Allah“. Pedas di telinga tapi dingin di Hati (jika ucapan beliau —ibarat makan— dikunyah-kunyah dulu sebelum ditelan.

Bersyukur—saya, karena tahun 2006 lalu pulang kembali ke Kalimantan Selatan, dan duduk mengaji, menjadi salah satu orang yang mengaku menjadi murid beliau. Beliau Guru saya, Abi saya, juga Pemimpin saya. Begitu juga orang tua kandung saya. Maka, jika adik-adik saya sedang menggunakan komputer yang saya pakai sekarang ini, dan terhubung dengan internet. Saya berusaha mengawasi mereka, walau tidak secara langsung. Agar mereka merasa bahwa saya menghargai privasi mereka. Namun, privasi mereka tetap ada batasnya, karena mereka adalah adik-adik saya—bukan orang lain. Jika orang lain, itu bukan urusan saya.