Tags

,

Dulu saat kami masih kecil hingga duduk di bangku SMA. Ibu sering berucap begini (dalam Bahasa Banjar) “Sudah handak tabahera, hanyar bacari lubang!” kalau dalam Bahasa Indonesia begini “Sudah hampir B.A.B, baru mencari lubang!” Beliau berucap seperti itu setiap kami kalang kabut mengerjakan sesuatu, entah itu PR atau Tugas Keterampilan yang dikerjakan di rumah, atau besok harus membawa sesuatu ke sekolah.

Sering kali, kami —karena keasyikan bermain— lupa lalu panik atau kalang kabut, karena belum mengerjakan apa yang ditugaskan oleh guru di sekolah, ibu akan menghujani kami dengan ucapan seperti itu. Yah, memang terkadang hal-hal semacam itu tidak dipersiapkan sejak awal, selagi masih banyak waktu. Dan, ketika sudah dekat atau besok adalah Hari H-nya, baru sibuk, panik, gelisah, kalang kabut, terjaga sepanjang malam, dan akhirnya besoknya bangun kesiangan.

Namun, seiring berjalannya waktu—dan, kami sudah punya tugas masing-masing. Hal yang diucapkan ibu memang benar. Setidaknya —untuk saya— sekarang, melihat atau mengamati anak-anak di sekolah tempat saya bertugas sekarang. Jadi senyum-senyum sendiri, seakan-akan saya melihat bagaimana saya dan adik-adik saya dulu.

Kalau dalam Ilmu Sosiologi, ada yang namanya Teori Cermin Diri (Looking Glass Self) yang dikemukakan oleh Charles Horton Cooley, seorang Sosiolog dari Amerika. Dia menyatakan bahwa “Diri seseorang tumbuh dari interaksi antar masyarakat dan persepsi orang lain. Istilah ini mengacu kepada orang-orang membentuk diri berdasarkan persepsi orang lain, yang memimpin orang-orang untuk memperkuat perspektif orang lain pada diri mereka sendiri.” Dia juga membuat suatu kesimpulan dalam pernyataannya: “I am not what I think I am and I am not what you think I am; I am what I think that you think I am.”

Looking Glass Self

Ilustrasi: Looking Glass Self Theory

Jika dihubungkan dengan teori tersebut, melihat atau mengamati mereka sekarang, seperti melihat atau mengamati saya dulu (saat masih anak-anak).

Nah, apa yang Anda ingat tentang ucapan Ibu Anda?