Tags

,

Menyambung posting tadi malam. Setelah menjelajahi internet, saya menemukan beberapa referensi tentang “Hiperaktif“. Seorang Doktor bernama Erik Taylor, menyebutkan perbedaan jenis kelamin dapat menetukan peluang seorang anak untuk berperilaku hiperaktif. Anak laki-laki mempunyai kemungkinan 3 – 4 kali lebih besar untuk menjadi hiperaktif dibandingkan dengan anak perempuan, karena hiperaktivitas (misal: sifat sgresif) pada anak perempuan tidak begitu berkembang.

Dr. Erik Taylor membagi perilaku aktif yang berlebihan menjadi 3 (tiga):

  1. Overaktivitas, yaitu perilaku anak yang tidak mau diam yang disebabkan kelebihan energi. Hal ini menandakan bahwa anak tersebut sehat, cerdas dan penuh semangat. Tapi overaktivitas sesaat dapat terjadi pada anak yang keaktifannya normal.
  2. Hiperaktivitas, yaitu pola perilaku overaktif yang cenderung asal (tidak pada tempatnya) ciri-ciri dari hiperaktivitas adalah sebagai berikut:
    • Sering meninggalkan tempat duduk saat mengikuti kegiatan dikelas atau kegiatan lain yang mengharuskannya tetap duduk.
    • Sering tangan dan kakinya tidak bisa diam atau banyak bergerak ditempat duduk.
    • Sering berlari-lari.
    • Tidak dapat mengikuti aktivitas atau bermain dengan tenang dan santai.
    • Sering banyak bicara.
  3. Sindrom hiperkinetik yaitu bentuk semua hiperaktivitas parah, yang menyertai jenis kelambatan lain dalam perkembangan psikologi, misalnya sikap kikuk dan kesulitan berbicara. Anak yang berperilaku sangat aktif pada usia 2 sampai 3 tahun belum dapat dikategorikan hiperaktif, karena rentang aktivitas yang diangap normal masih besar. Baru setelah anak usia 3 tahun ke atas, aktivitas tidak teratahnya akan menurun drastis. Oleh karena itu, terlebih dulu perhatikan dengan seksama apakah overaktivitas anak hanya karena ia tidak mampu memusatkan perhatiannya terhadap sesuatu lebih dari beberapa menit saja, ataukah ia tidak mampu mengendalikan diri dalam situasi yang menuntutnya untuk bersikap tenang.

Oke, saya stop sampai di situ saja. Karena masih banyak literatur lain tentang Hiperaktif. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa hiperaktif merupakan salah satu ciri Autisme. Bahkan ada seorang dokter ahli di Jogjakarta, yang menyebutkan autisme bisa dialami oleh orang dewasa. Disebutkan beberapa pasien dokter tersebut ada yang lulusan luar negeri.

Saya tidak berani menyimpulkan, atau sok tahu, sok pintar, sok ahli. Jadi apa yang saya amati dari perilaku peserta didik, saya anggap merupakan aktivitas untuk menghilangkan tekanan saat proses belajar mengajar. Heheh, jadi ingat novel alih bahasa yang berjudul “Dunia di Balik Kaca: Kisah Nyata Seorang Gadis Autistik“. Novel yang ditulis oleh seorang peyandang autis dewasa asal Australia, Donna Williams (40 tahun).

Kalau mereka autis, saya juga autis pastinya. Karena, saya orang yang lebih suka tenggelam ke dalam diri sendiri. Tidak suka keramaian, tidak bicara bila tidak perlu. Itu juga salah satu ciri autisme.

Whatever about that… saya menganggap itulah cara saya menjalani hidup. Terserah orang mau bilang apa, bahkan ucapan seorang dokter saja saya acuhkan. “Merokok merugikan kesehatan“. Ah, saya tidak ambil pusing. Karena kalimat itu adalah kalimat yang berburuk sangka terhadap rokok. Doa yang buruk, dan Allah mendengarnya.