Tags

, , , , , ,

Experiential Learning, sesuai dengan sebutannya—Ini adalah program yang berdasarkan pada metode belajar melalui:

  • Pengalaman di alam terbuka yang dirancang dengan baik, yang meliputi aktivitas yang menantang individu maupun kelompok, dan membutuhkan keterlibatan secara komitmen untuk berhasil.
  • Berbagai lingkungan baru dan unik yang memungkinkan partisipan memilih, memodifikasi, atau mengembangkan konsep, ide, prosedur, teknik, dan keterampilan yang paling cocok untuk diterapkan pada suatu situasi baru, di mana tidak terdapat jawaban yang “benar”.
  • Kesempatan untuk mengenali kelebihan dan keterbatasan diri dalam suatu lingkungan yang semakin kompleks. Lalu menemukan strategi untuk mengatasi keterbatasan dan mengembangkan kelebihan.


Experiential Learning

Experiential learning mulai dengan mengalami sesuatu, dan melalui proses review, menyerap lalu menerapkan apa yang telah dipelajari. Karena didasarkan pada pengalaman, proses belajarnya melibatkan seseorang secara fisik, intelektual dan emosional. Proses belajar berpusat dan dikendalikan oleh peserta. Proses belajar ini dapat dipadukan dengan pendidikan formal.

Outdoor Education

Outdoor education adalah sebuah metode belajar dari pengalaman (experiential learning) dengan cara melakukan dan merefleksikan. Metode ini juga memanfaatkan semua indera dan dilakukan terutama, walaupun tidak selalu, melalui keterlibatan langsung dan dengan tujuan tertentu di lingkungan alam bebas.

Adventure Education sebagai cabang dari Outdoor Education

Adventure education berkaitan dengan dua relasi:

  1. Relasi interpersonal: cooperation, communication, trust, problem solving, leadership, dan sebagainya.
  2. Relasi intrapersonal: confidence, risk taking, self concept, dan sebagainya.

Tujuan adventure education adalah untuk menumbuhkan kesadaran untuk melakukan perubahan-perubahan yang positif. Prosesnya meliputi penggunaan berbagai aktivitas petualangan, misalnya kegiatan olah raga atau rekreasi baik di alam terbuka (berkemah, canoeing, rock climbing, etc) maupun di lingkungan buatan (halang rintang atau permainan kelompok).

Melalui aktivitas ini, kelompok atau individu dihadapkan pada sejumlah tugas yang harus diselesaikan. Tugas ini seringkali bersifat tantangan dan problem solving. Unsur-unsur problem solving membutuhkan pengambilan keputusan, kooperasi, komunikasi, trust, dan pertimbangan (jugjement). Sedangkan unsur tantangan akan merupakan ujian bagi kemampuan seseorang dalam mengatasi resiko mental, sosial, dan fisik.

Hasil dari adventure education adalah perkembangan diri. Setelah berhasil menyelesaikan tugas yang semula tampak tidak dapat dilakukan, kelompok dan individu belajar untuk mengatasi dan “menembus” hampir setiap persepsi diri yang membatasi kemampuan untuk berhasil. Mereka belajar untuk merubah keterbatasan menjadi kemampuan, sehingga mereka dapat belajar lebih mengenal diri dan bagaimana berhubungan dengan orang lain.