Tags

, ,

Saat masih bersekolah di SMA, salah satu pelajaran yang saya senangi adalah Ilmu Sosiologi dan Antropologi. Salah satunya adalah tentang Status Seseorang ↔ Aktif dan Pasif.

Kurang lebih begini, saat seseorang melangkahkan kakinya keluar dari rumah menuju tempat beraktivitas —misalnya: Siswa dan Guru—Adik dan Kakak.

Status aktif keduanya adalah kakak beradik ketika masih di rumah. Begitu mereka memasuki gerbang sekolah, statusnya menjadi pasif. Dan, yang aktif adalah Guru-Murid, Abi-Anak, Pendidik-Peserta Didik, Pemimpin-Yang Dipimpin.

Aktif dan Pasif. Pemimpin, Guru, Ayah adalah satu. Harus dihormati. Satu salah, semua menerima konsekuensinya.

Jika sang Adik gagal dalam pelajaran, sang Kakak juga gagal. Kenapa? Karena, IMHO: Karena keduanya adalah objek pendidikan, itu sama artinya kedua gagal belajar dan gagal mengajar. Guru jadi Murid, Murid jadi Guru. Tidak monolog, tetapi dialog. Guru belajar bagaimana caranya agar ilmu yang ditransfernya diterima, dipahami oleh muridnya. Murid belajar menerima dan memahami ilmu yang ditransfer. Guru belajar mengenali kelebihan dan kekurangan muridnya, muridnya belajar berusaha mengatasi kelemahan dan memanfaatkan kelebihannya.

Gagal karena hanya menganggap Guru adalah pekerjaan, lahan mata pencaharian. Gagal karena mengganggap guru tersebut adalah kakaknya sendiri, yang akan membela, melindungi, menyembunyikan, dan lain sebagainya yang jelek-jelek dari si Adik.

Lantas apa hubungannya dengan Status Aktif dan Pasif. Dengan melihat situasi, kita (saya) harus bisa mengimplemantasikan Ilmu Sosiologi ini dengan tepat di setiap lingkungan —Rumah maupun Sekolah. Tanpa harus menunggu jam pelajaran berakhir, tanpa harus menunggu jam sekolah usai. Agar suasana belajar-mengajar jadi lebih nyaman, lebih menyenangkan. Jika hati senang, otak (akal) cenderung lebih tenang, rileks, dan lebih sinkron dengan hati. Dan, hati harus dijaga dan dipelihara agar tidak rusak. Sehingga akhlaknya juga tetap baik. Semua hal yang baik harus diawali dengan hal yang baik pula. Dan, akhirnya menjadi manfaat.