Tags

, ,

Pada halaman About, saya menulis bahwa Ilmu Pengetahuan hanya pinjaman, tidak bisa memilikinya sendiri. Awal bulan saat peserta didik di SMA PGRI 1 Banjarbaru mengikuti Try Out UAN yang diadakan oleh Dinas Pendidikan. Terbesit dalam pikiran saya tentang 3 (tiga) hal yang akan saya bicarakan di kelas saat jam pelajaran yang saya pegang berlangsung. Yakni:

Attitude, Knowledges, dan Skill.

Iseng masuk ke Perpustakaan dan melihat-lihat buku, mata saya tertarik pada sebuah buku. Jika mata tertarik biasanya Hati saya juga, so… saya ambil buku —yang ditulis oleh Hamka Abdul Aziz— tersebut dan membaca ringkasan yang ada di sampul belakang. Lalu seperti yang sering saya lakukan dulu jika saya windows shopping di Gramedia —membaca acak.

Pada halaman-halaman terakhir saya menemukan topik yang sama seperti yang sedang saya pikirkan, Attitude, Knowledges, Skill. Serta yang selalu saya ucapkan pada diri saya dan orang-orang yang mungkin saat itu Hati saya sedang ingin berbagi yaitu “Hati dan Akal harus sinkron“.

Jika saya kaitkan keempat hal tersebut dengan filosofi sufi seperti yang ditulis dalam buku “Hati, Diri, dan Jiwa: Psikologi Sufi untuk Transformasi”, ditulis oleh Robert Fragner yang judul aslinya “Heart, Self and Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance, and Harmony (1999)”. Semua saling berhubungan, tidak ada ilmu yang milik satu orang manusia pun, karena manusia adalah objek pendidikan dari lahir hingga mati.

Saya hanya orang biasa yang hanya tahu satu hal, yaitu saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya seorang murid. Maka saya harus selalu belajar. Jika ada pengetahuan dalam ingatan saya, tanpa pernah mempelajari atau membaca sebelumnya, lalu menemukan hal yang sama dalam sebuah buku yang ditulis oleh seseorang, itu adalah “Kemurahan Hati Allah pada saya”.