Tags

, , , ,

Dekade 1990-an dunia dikejutkan dengan hasil penelitian Dr. Daniel Goleman. Bahwa IQ hanya memberikan kontribusi 20% dari faktor yang menentukan keberhasilan seseorang. Sisanya yang 80% datang dari hal lain diluar kecerdasan IQ, Yang lebih dikenal dengan sebutan kecerdasan emosi, istilah kerennya EQ.

Paul Hersey dan Kenneth Blanchard dalam buku “Management of Organizational Behavior” mendiskusikan dua jenis sumber kewibawaan seseorang pemimpin disebutkan, pertama adalah position of power yaitu bahwa wibawa yang datang dari jabatan atau posisi. Seseorang yang memiliki position power akan disegani anak buah.

Kedua, adalah personal power yaitu, wibawa yang datang dari kepribadian sang pemimpin. Tanpa melihat jabatannya, mereka yang memiliki personal power dengan sendirinya, dihormati, disukai serta dipanuti anak buahnya.

Maka muncul pertanyaan, mana yang lebih baik? Kesimpulan dari diskusi dalam buku tersebut, seorang pemimpin yang efektif memiliki keduanya dengan seimbang. Disatu pihak dia disegani karena dia memiliki otoritas untuk memberi upah (rewards) dan hukuman (sanction), tetapi dia juga disukai karena dia memiliki pendekatan manusiawi yang tepat (human skills).

Mengapa demikian? menurut Robert Tannembaum dan Warren H Schmidt dalam tulisan mereka di Harvard Bussiness Review, seseorang yang murni memiliki position of power akan menggunakan gaya kepemimpinan otoriter dimana sang atasan memanfaatkan otoritasnya dan bawahannya hampir tidak memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi.

Karena dia memanfaatkan otoritasnya, dia ditakuti tetapi tidak disukai. Sisi lain dari mata uang yang sama adalah gaya kepemimpinan demokratis dimana seseorang yang menggunakan personal power murni (mungkin karena tidak ada jabatan formal) maka dia melibatkan bawahannya sebanyak mungkin.

Pemimpin seperti ini benar-benar disukai, tetapi bila tiba saatnya dia harus mengambil keputusan yang mungkin akan tidak disukai beberapa orang, maka dia merasa tidak memiliki otoritas, sehingga keputusannya tidak dituruti.

Bila kita memiliki posisi atau jabatan yang formal, baik dalam organisasi maupun dalam keluarga, misalnya sebagai orangtua maka kita dengan sendirinya memiliki position power. Tetapi seperti dikatakan pakar Manajemen Indonesia, Gede Prama dalam bukunya “Kepemimpinan Berdasarkan Air”, saat ini bawahan lebih responsif pada pendekatan menjual ide dan bukan pada pendekatan otoriter alias memerintah dan menyuruh.

Pendekatan menjual ide ini adalah sesuatu human skill yang menjadi bagian dari personal power. Hersey dan Blanchard mendefinisikan human skills sebagai kemampuan untuk bekerja dengan dan melalui orang lain, termasuk didalamnya memahami motivasi orang lain. Kemampuan inilah yang menjadi bagian dari EQ.

Dengan begitu seorang pemimpin mau tidak mau harus memiliki EQ yang tinggi pula. EQ yang tinggi akan meningkatkan human skills dan juga meningkatkan human skills dan juga meningkatkan porsi personal of power, sehingga tidak saja disegani tetapi juga memang disukai dan dihormati bawahan.

Percaya atau tidak? Ternyata kecerdasan emosi turut menentukan keberhasilan seseorang.

According to Hersey & Blanchard (Management of organizational behavior), effective leaders are leaders who can balance the position of power and the personal power. They will show authority in rewarding, giving sanction and also they apply their human skills approarch in being a leader.

Leaders who only have a position of power will not be liked by their subordinates. On the other hands, leaders who only relied on their personal power will be liked by their subordiantes. Still they will face diffulties in a situations when they have to make important decisions. Since, they have no power to frontage any disagreement which might be accured from others. As a result, their decisions will not be respected.

Through balance approarch, subordinates will be more responsive to their leaders. they will do the decisions willingly and seriously. This approach is a part of the emotional intelligence and absolutely neccessary for an effective leadership.

Jika Epictetus berkata begini “Pertama-tama, katakan pada dirimu apa yang akan kau raih lalu lakukan apa yang perlu kau lakukan”.

Maka saya menulis begini “Untuk mendapatkan hasil yang baik/bagus/tertentu, maka sempurnakan dulu usahanya”. Nah, jika yang saya tulis ini diimplementasikan dalam dunia pendidikan bagaimana ya …?!?

Jadi topiknya bukan “Kecerdasan Emosional Pemimpin” tapi “Kecerdasan Emosional Guru dan Murid“. IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan yang satu ini sangat bahkan paling penting SQ (Spiritual Quotient).