Tags

, , , , , ,

Terserah apa kata dunia, kalau kata saya sih, ngga heboh-heboh amat. Biasa aja lagi, jika seorang guru jatuh cinta pada muridnya. Sah-sah saja kok, diharuskan malah (IMHO).

Lho! Kok malah harus..?!?

Iya dong..!!! Jika seorang guru, tidak mencintai muridnya, maka ia hanya datang ke sekolah, ngajar, ngasih tugas, ngasih ujian, habis itu pulang, dan awal bulan terima gajian. Mengajar hanya jadi rutinitas pekerjaan. Tanpa ada keinginan untuk benar-benar memberikan motivasi dan wawasan pengembangan sumber daya manusia. Kala berinteraksi dengan murid, mereka tidak diposisikan sebagai seseorang yang dicintai. Posisinya hanyalah anak orang yang harus dididik, diajari, dijejali dengan materi-materi pembelajaran, lalu diuji kompetensinya. Hati sang guru tidak benar-benar ada/diberikan untuk mereka.

Jika seorang guru mencintai muridnya, maka baginya murid itu adalah orang yang dia cintai, dia sayangi. Dan, diajari dengan setulus hati. Serta tidak mengebiri potensi-potensi yang ada dalam diri murid tersebut. Murid diperlakukan lebih manusiawi, meskipun sang guru tegas dan keras dalam proses pembelajaran. Yaa Anda tahulah gimana caranya memperlakukan orang yang disayangi. Ngga perlu saya bahas…

Mengajarkan sesuatu yang baik ya semestinya dilakukan dengan baik pula. Yang sederhana saja, misalkan minta ambilkan sendok, ya ucapkan dengan sopan “Tolong dong, ambilkan saya sendok”, ‘kan terdengar indah, daripada “Eh, ambilkan saya sendok, cepetan, saya lapar—mau makan”. Aduuh gak indah sama sekali ucapan tersebut. Dari situ saja sudah memunculkan/membentuk persepsi, seakan-akan murid ini babu.

Meskipun iya, pengalaman tidak punya saya. Ilmu pendidikan tidak punya saya. Tapi yang saya perhatikan, di depan sang guru, si murid senyum, bersikap sopan, di belakang kayak setan. Mencaci, menjadikan sang guru bahan obrolan, atau bahan candaan. Jika hal ini terus terjadi, maka sebenarnya sang guru sudah kehilangan hak mengajar dari murid-muridnya.

Saya kira ngga perlu takut menjadi berbeda. Seperti guru bahasa inggris saya dulu, “Kalau si Hafid mah saya percaya ngga akan nyontek atau melakukan kecurangan lainnya, secara dia duduk di depan dan memang selalu terdepan”. Begitu renyah terdengar di telinga. Beliau memberikan hatinya pada saya, memberi motivasi, dan membantu saya membangun kepercayaan diri. Terima kasih untuk ibu Lince Marpaung. Terima kasih untuk Abi Guru di Kampung Melayu Martapura, yang selalu memantau muridmu ini. Saya akan selalu mencintai Ilmu-ilmu yang sudah diajarkan—diberikan. Saya sudah jatuh cinta, meskipun saya orang yang keras kepala dan tidak suka berbelas-kasihan.

About these ads